Assalamualaikum“Waalaikumsalaam. Silakan duduk Pak Bu! Bu Bambang nya masih shalat”, sambut asisten Bu Bambang pada kami.
(rupanya kami sudah ditunggu, kamipun disuguhi roti gelas. Apa itu? Sebenarnya saya tidak tahu namanya, itu lho jadi ada gelas isinya ada sosis, daging dan jamur dicampur semacam krim putih lalu diatasnya ada roti gandum yang menempel lekat di bibir gelas karena sebuah mesin yang bernama oven. Hmm mak nyus. Istimewa)
“Silakan lho selagi masih panas. Kalau sudah dingin nanti tidak enak”, kata asisten tersebut pada kami.
(memang roti gelas itu sudah agak dingin karena dimasaknya seusai jum’atan sedangkan kami berkunjungnya sudah mendekati sore. Tak menunggu lama roti gelas itupun menguap sedikit demi sedikit karena tampilannya begitu menggoda, dan hmm…rasanya juga sangat enyaak. Sebelumnya saya, istri dan ayah mertua harus menjemput terlebih dahulu ayah dan ibu di kantor bedah saraf RSU. dr Soetomo yang jaraknya puluhan kilometer. Sedikit meleset dari yang dijanjikan akan bertemu seusai jumatan. Alhamdulillah kebetulan sekali ayah dan ibu belum makan siang. Jadi hidangan tinggi kalori ini cukuplah mengganjal perut yang sudah berteriak kelaparan. Semoga Alloh membalas semua kebaikannya)
Yang ditunggupun akhirnya datang juga. Bu Bambang, owner Sukma Sari Wedding Organizer. Nama aslinya mana tahu. Nama kecil seorang ibu memang kadang dirahasiakan. Karena sering jadi password transaksi perbankan. Puterinya tentu tidak akan rela nama ibunya disebar-sebar hehe..
Wanita itu sulit ditebak usianya mungkin sekitar 50 atau 60. Wajahnya cerah, bugar dan minim kerutan. Menandakan pemiliknya rajin merawat diri. Ketika menyambut dan berbincang dengan kami tutur katanya santun, cerdas dan sarat pengalaman. Sorot matanya teduh dan bersahabat. Perawakannya agak besar sebesar jiwanya sebesar keteguhannya dalam membesarkan bisnisnya.
Acaranya dimana bu?
InsyaAlloh di gedung Juang
Hmmm ya ya. Gedung Juang itu praktis juga dekat. Tempat parkirnya luas.
Nanti memakai adat Jogja atau solo bu?
Jogja… Bu Bambang
Sampai disini mari kita sejenak menghentikan detak jam dan detak jantung lalu trance melakukan suatu perjalanan imajiner kembali ke masa lalu untuk mencari tahu asal muasal perbedaan budaya jogja dan solo. Siap-siap.. Bismillahirrohmaanirrohiim
Pada tahun 1755 terjadi peristiwa bersejarah yaitu tepat ditandatangani nya perjanjian Gianti yang membagi wilayah Kesultanan Mataram menjadi dua yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Karena latar belakang politik yaitu perang saudara yang makin memanas antara Pangeran Aryo Mangkubumi dan Sinuhun Paku Buwono II akhirnya Kompeni berusaha menengahi sekaligus menjalankan taktik licik VERDEEL EN HEERS membagi dan menaklukkan atau yang lebih beken Devide et Impera. Belanda kompeni memanfaatkan konflik internal kerajaan Mataram agar kekuasaannya terpecah belah sehingga lebih mudah dikuasai.. melalui perjanjian ini Pangeran Mangkubumi berkuasa di Yogyakarta dan kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I. Sementara Sinuhun Paku Buwono III berkuasa di Surakarta. Masyarakat di kedua wilayah ini lalu bertumbuh dengan adanya ‘caranya’ masing-masing. Mulai dari cara pandang, cara hidup, cara bicara, cara berbusana sampai pada seni gamelan dan seni tarinya. Yah, sangat beragam dan unik sekali. Contohnya seperti ini, ternyata ada perbedaan dari gaya berbusana antara pria Jogja dan Solo.
Blangkon
 |
| blangkon Solo. Mondolan pipih |
 |
| Blankon Jogja Mondolan lebih menonjol |
Perbedaannya ada pada mondolan atau gelung belakang. Kalau Yogyakarta mondolannya menonjol dan agak besar. Sementara Solo bentuknya pipih / kempes / trepes. Kok bisa begitu? Masing-masing ada makna filosofis yang menarik. Pada zaman dahulu banyak pria Jawa yang berambut panjang sehingga banyak yang digelung ke belakang menyatu dengan ikat kepala sehingga pada blangkon Jogja ada mondolan atau tonjolan di belakang tempat gelungan rambut. Ada juga yang memaknai bahwa gelungan itu ibarat aib yang harus disembunyikan baik aib sendiri maupun orang lain. Menyimpan rapat2 perasaannya sendiri demi menjaga perasaan orang lain. Tetap tersenyum walau hatinya menangis atau marah.. inilah sebenarnya watak orang jawa secara umum, jarang ada yang blak-blakan tanpa tedheng aling-aling selalu dijaga dan dijaga karena wataknya halus. Sedangkan di Solo, karena lebih dekat dengan pemerintahan kolonial, orang-orang Solo sudah terlebih dahulu mengenal cukur. Jadi Blangkon Solo hanya mengikatkan 2 pucuk ikatan menjadi satu. Dua ikatan ini ibarat 2 kalimat syahadat yang harus diikat kuat, dipegang teguh di dalam hidup.
Tentang blangkon sendiri ada 2 filosofi. Yang pertama diletakkan di kepala agar produk yang dihasilkan kepala yaitu berupa ide, pemikiran, konsep haruslah tetap selalu dalam koridor nilai-nilai agama Islam. Jadi tidak dibiarkan bebas begitu saja akan tetapi diarahkan agar menjadi berkah untuk sesama. Menjadi rahmatan lil alamiin (rahmat seluruh semesta). Filosofi yang kedua Blangkon ibarat makrokosmos (Pemilik alam semesta ) sedangkan kepala adalah mikrokosmos yaitu makhluk bernama manusia. Artinya dalam menjalankan amanahnya sebagai khalifah fil ardhi (pemimpin di Bumi)
harus selalu tunduk dan patuh kepada penciptanya yaitu sang Khalik.
Surjan dan Beskap
 |
| Beskap Solo |
Pakaian Adat pria Jogja sehari-hari disebut surjan. Ada 2 macam motif yaitu surjan lurik dan surjan kembang. Kalau di Solo, pakaian pria namanya Beskap, bentuknya seperti jas didesain sendiri oleh orang Belanda yang berasal dari kata beschaafd yang berarti civilized atau berkebudayaan.
Keris
Keris gaya Solo disebut
ladrang sedangkan Jogja bernama
Branggah.
Ladrang mempunyai bilah (sarung keris) yang lebih ramping dan sederhana tanpa banyak hiasan karena mengikuti gaya senopatenan dan mataram sultan agungan. Sementara keris Solo pada bilahnya lebih banyak ornamen dan bentuk/motif karena mengikuti cita rasa Madura dari Mpu Brojoguno. Ukiran keris solo bertekstur lebih halus daripada jogja. Juga ada perbedaan dari gagang keris, luk, dll. Masing-masing memiliki filosofi sendiri-sendiri.
Wiru (seni melipat kain batik/jarik)
Wiru pada jariknya pun juga berbeda. Wiru Yogyakarta pada bagian garis putih pada ujung jarik diperlihatkan dan kadang-kadang disertai “pengkolan-pengkolan” (lipatan). Sedangkan pada Wiru Surakarta garis putih tersebut tidak diperlihatkan dengan cara ditekuk atau dilipat ke dalam sehingga akan tertutupi oleh wiru itu sendiri.
Corak batik
Mengenai corak batik sebenarnya sumbernya sama yaitu dari mataram kuno tapi seiring perkembangan ada sedikit perbedaan. Pada batik Solo cenderung bercorak gelap dan muram sementara Jogja cerah. Ada juga perbedaan istilah, tata cara pemakaian, pemilihan batik pada event2 tertentu
Pager Bagus
Di Solo pager bagusnya muda2 yang cantik yang ganteng. Di Solo lebih menekankan penampilan dan cenderung glamour sementara pada resepsi Jogja yang menjadi pager bagus adalah pasangan yang sudah berumur karena lebih menekankan kesederhanaan dan ilmu dari seseorang. Menurut adat jogja manusia akan lebih terlihat cantik/tampan bila memiliki ilmu.
 |
| Surjan Jogja |
 |
| kiri : keris Solo kanan : keris Jogja |
Tik tok waktu kembali berjalan dan mari kita kembali ke masa kini. Bu Bambang dan kami telah selesai beramah-tamah. Dalam dialognya, Beliau telah mengajarkan kami akan betapa tingginya budaya yang kita miliki. Itu baru adat Jawa belum daerah daerah yang lain. Negara kita adalah Negara kepulauan.. archipelago.. Budaya dan bahasa tumbuh begitu subur dengan nilai-nilai kearifan lokal masing-masing. Teringat-ingat pesan dari Kitab suci Al-Qur’an QS Al Hujuraat : 13 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal “ Subhanallah diciptakan-Nya perbedaan adalah sebagai bukti Kebesaran-Nya. Perbedaan diciptakan bukan untuk menjadi saling bermusuhan akan tetapi agar manusia dapat saling menghargai satu sama lain.
Surabaya, 13 Februari 2011
Writer : Astu Anindya Jati, dr.
Editor in chief : Nindia Nurmayasari, SPsi.
Referensi