Tampilkan postingan dengan label Renungan Fajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Fajar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2011

Kiat menghindarkan diri dari sifat Munafik


Renungan Fajar @SSFM  Jum’at 15 April 2011 / Ustadz Rofi’ Munawar
Judul : Kiat menghindarkan diri dari sifat Munafik

Di Al-Quran alloh selain menerangkan tentang kebaikan, keimanan dan ketaqwaan, Alloh juga menerangkan tentang sifat-sifat tercela. Salah satunya adalah sifat munafik.  Sifat yang diterangkan secara detail agar kita dapat mewaspadainya dan jangan sampai kita terjebak didalamnya.

Bagaimana cara mencegahnya?
[1] Jangan terjebak dalam standar ganda
Orang munafik itu tidak tahu positioning, berstandar ganda dan selalu memakai topeng. Selalu menampakkan wajahdan kesan  kebaikan padahal hatinya busuk . Mengapa bisa sampai begitu oleh karena adanya bebagai tekanan dan kepentingan. Mereka selalu merasa telah berbuat baik padahal sesungguhnya berbuat kerusakan di muka bumi.

Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan (QS 2:11)

[2] Sebisa mungkin jangan sekali-kali berdusta
Banyak orang yang berdusta semata-mata agar tetap dianggap pintar, agar tetap popular. Padahal begitu banyak yang kehilangan, harga diri, jati diri dan wibawa karena kata-katanya tidak dapat dipegang, karena ia sering berdusta.

Nabi pernah bersabda saat ditanya tentang ciri orang munafik. Adalah Bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia ingkar dan bila dipercaya ia ingkar. Dan fenomena ini sudah banyak. Jangan-jangan diri kita juga begitu. Naudzubillah Min Dzalik.

[3] Jangan suka melakukan tipu daya yang mencederai orang lain
Pada waktu zaman Rasul, ada orang munafik yang begitu menampakkan wajah manis. Selalu berusaha menampakkan kesan yang baik pada Nabi. Hingga ia bersama orang munafik lainnya membangunkan sebuah Masjid Dhiar dan mengundang nabi untuk menjadi imamnya. Padahal tujuan sebenarnya adalah ketika Nabi menjadi imam, Beliau akan dicelakai. Itulah sebabnya Alloh yang Maha Mengetahui hati terdalam manusia  kemudian melarang Nabi shalat disana

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar (QS 2:9)

[4] Orang-orang munafik tidak pernah tenang saat melakukan kebaikan
Analoginya seperti ini. Daging itu kan baik tapi orang yang sakit jantung tidak serta merta dapat menikmatinya karena ia tidak sehat secara fisik. Begitu pula dengan orang munafik, lebih parah lagi. Bahkan ia berusaha menghalang-halangi orang lain untuk berbuat kebajikan. Ia sama sekali tidak merasakan nikmatnya iman. Tidak menyetujui syiar-syiar agama misalnya. Kebalikannya orang-orang yang beriman akan merasakan tentramnya beribadah tentramnya mengingat Alloh.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka[364]. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya[365] (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali[366].


[364]. Maksudnya: Alah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani para mukmin. Dalam pada itu Allah telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.
[365]. Riya ialah: melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat.
[366]. Maksudnya: mereka sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, yaitu bila mereka berada di hadapan orang.


Semoga Alloh melindungi kita agar jangan sampai terjebak menjadi Orang-orang Munafik


Reviewed by : @astu_MD


Selasa, 05 April 2011

Tawadhu sebagai tanda bakti kepada ibu bapak


Renungan Fajar SSFM 4 April 2011
Ust. Abdul Aziz
Judul : Tawadhu sebagai  tanda bakti kepada ibu bapak


Assalamualaikum Wr.Wb
Masih tentang Birrul Walidain (Berbakti kepada orang tua) adalah dengan bersikap tawadhu / rendah hati. Setiap orang mungkin menginginkan orangtuanya sempurna baik dari pendidikan, harta, pekerjaan. Namun tidak semua seperti yang diharapkan. Kadang orang tua kita dalam hal-hal tersebut biasa-biasa saja atau serba kekurangan.

Kesemuanya itu janganlah kemudian membuat kita menjadi tinggi hati, sombong. Mentang-mentang sudah sukses dan berada. Selalu ingat bahwa kesuksesan kita itu tidak lepas dari doa kedua orangtua kita. Doa-doa yang terucap saat shalat tahajjud.. doa-doa yang keluar dari hati yang murni dan tulus tanpa mengharapkan imbalan. Orangtualah yang menolong kita disaat kita lemah dan sakit, orangtua pula yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."  (17:24)

Karena itu wajiblah bagi kita untuk menaatinya dengan senang hati dan ikhlas. Berbakti adalah sarana ibadah. Carilah surgamu dibawah telapak kaki ibumu!

Alloh berfirman dalam QS 2:215
Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

Ayat ini mengatakan tentang urutan-urutan memberikan infaq yaitu yang pertama adalah orangtua baru kemudian kaum kerabat, anak yatim dsb. Memberi nafkah ini tidak memperhatikan apakah orangtua itu mampu atau tidak. Karena sifat dasar orangtua adalah tidak mau merepotkan anaknya bahkan jika mampu akan selalu ingin membantu anak-anaknya.  Ginjal , daging dan kulitpun akan diberikannya bila anaknya membutuhkan. Memenuhi kebutuhan orangtua itupun juga tidak memandang apakah orangtua itu berbuat baik kepada kita atau tidak.

Rasululloh bernasihat " Bila engkau memenuhi hak mereka (orangtua) memberi makan kepada mereka engkau akan memperoleh ganti Untuk setiap suap makanan dengan sebuah gedung di surga."

Selain memberi nafkah yang harus kita lakukan adalah mendoakannya. Mari kita doakan kedua orangtua kita sebagai balasan atas jerih payahnya dengan kasih yang abadi  merawat kita tanpa pamrih.

Dalam satu hadits, Rasulullah Saw. Menjelaskan bahwa seorang hamba Allah yang mengerjakan shalat fardhu dan berdoa untuk kedua orangtuanya dengan memohonkan ampunan, maka Allah akan mengabulkan doanya. Allah Swt., juga akan mengampuninya karena berkah doanya kepada orangtuanya, walaupun orangtuanya tersebut fasik. Artinya, orangtua yang tidak saleh bisa terangkat berkat doa anaknya yang saleh di dalam kuburnya. Disini, Beliau mengisyaratkan bahwa mendoakan orangtua akan mendapatkan berkah berupa dikabulkan doa dan mendapat ampunan Allah. Terkabulnya doa dan ampunan merupakan Rahmat kasihsayang Allah, dan adanya kasih sayang Allah karena seorang anak mendoakan orangtuanya. Jika ia tidak mendoakan orangtuanya, doanya tidak akan dikabulkan Allah dan ampunan Allah tidak akan diberikan kepadanya. Orang yang doanya tidak makbul berarti hidupnya akan amburadul (tidak berkah). Inilah makna dari “doa anak yang shaleh” yang selalu diharapkan oleh kedua orang tua di dalam kuburnya.

4 April 2011
Retold by Astu Anindya Jati

Jadikan hidupmu barokah dan sukses degan Birrul Walidain (Berbakti kepada kedua orangtua)

Renungan Fajar SSFM 4 April 2011
Ust. Abdul Aziz
Judul : Jadikan hidupmu barokah dan sukses degan Birrul Walidain (Berbakti kepada kedua orangtua)

Assalamualaikum Wr.Wb

Pendengar Suarasurabaya kalau pada pertemuan yang lalu setelah kita kaji bersama betapa pentingnya birru walidain. Atau berbuat baik kepada orangtua. Timbul pertanyaan. Ustadz dalam birru walidain itu mana yang lebih utama? Ibu atau ayah? Orangtua itu terdiri dari ibu dan ayah. Keduanya mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan anak. Walaupun demikian apabila kita urut keutamaan dari keduanya, maka ibu lebih utama daripada ayah. Keutamaan ibu lebih besar daripada ayah dalam kehidupan anak secara tegas disebutkan secara tegas disebutkan dalam haditz Nabi ibu adalah tempat belajar yang utama dan pertama bagi anak-anaknya

Pendengar suara Surabaya kedudukan seorang ibu dimata anaknya lebih utama daripada kedudukan seorang bapak. Tugas seorang ibu juga lebih berat daripada tugas seorang bapak. Betapa tidak, seorang ibu harus berjuang keras sejak ia mengandung. Sejak mengandung kehidupan seorang ibu untuk menikmati hidup mulai terbatas. Selama 9 bulan ia harus menjaga dari baik ucapan, baik tingkah laku apa yang diminum dan dimakan. Ia selalu berhati-hati dalam menjaga keselamatan dan pertumbuhan janinnya. Semakin besar kandungannya semakin ia merasakan beban. Walaupun demikian ia tidak pernah mengeluh apalagi putus asa. Dan puncak beban berat yang harus ditanggungnya adalah saat melahirkan.
Alloh mengingatkan kita dalam QS Luqman ayat 14

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu
Kawan Pendengar

Pasca kelahiran seorang bayipun belum selesai tugas seorang ibu, bahkan nyaris bertambah berat. Ibu harus menyusui, merawat, mendidik dan melindunginya hingga menjadi dewasa. Semuanya itu dilakukan dengan senang hati dan tulus ikhlas meski harus dilakukan dengan susah payah dan tidak kenal lelah. Begitulah jerih payah dan pengorbanan seorang ibu. Melihat perjuangan dan pengorbanan seorang ibu, pantas sekali sebuah haditz menggambarkan tentang keutamaan dari ibu An-Najai meriwayatkan

Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW, lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, saya ingin ikut berperang, saya datang untuk bermusyawarah dengan engkau." Maka Nabi SAW bertanya, "Apakah kamu masih mempunyai ibu?" Orang itu menjawab, "Ya." Nabi bersabda, "Tetaplah kamu tinggal bersamanya, sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua telapak kakinya." (HR.Nasa'i)

Kawan pendengar, juga dari haditz tentang keutamaan seorang ibu dibanding ayah

"Siapakah yang paling berhak saya pergauli dengan baik?" Nabi bersabda, "Ibumu," orang itu bertanya, "kemudian siapa lagi?" Nabi bersabda, "Ibumu," orang itu bertanya, "Kemudian siapa lagi?" Nabi bersabda, "Ibumu, - orang itu bertanya, "Kemudian siapa lagi?" Nabi bersabda, "Ayahmu. (HR. Bukhari Muslim)

Maasyirol Mukminin, kawan pendengar.
Haditz ini menunjukkan bahwa orangtua itu mempunyai hak untuk dipergauli dengan sebaik-baik pergaulan dan mendapat perhatian dengan sempurna. Dalam hal ini ibu mempunyai hak yang lebih besar daripada ayah. Kalau kita tinjau ayahlah yang membiayai anak dan ikut mendidiknya seperti ibu akan tetapi mengapa kedudukannya lebih sedikit dari ibu? Fakta ini dapat dijawab karena ibu lebih berat dalam menanggung risiko anak. Sang ibu mengandungnya selama 9 bulan, melahirkannya dengan susah payah, bahkan sampai ada yang meninggal dunia. Menyusui selama 2 tahun berjaga pada malam hari. Karena memenuhi kebutuhan anak berusaha sekuat tenaga untuk kebahagiaan anak meskipun mengorbankan apa yang ada padanya dan sebagainya.

Islam telah mengatur tata cara dan perilaku bagaimana tata cara dan perilaku bagaimana hubungan yang baik dengan ibu juga harus diikuti perbuatan baik kepada ayah. Rasulullah bersabda Peliharalah kasih sayang ayahmu janganlah sampai kauputuskan Alloh akan  memadamkan cahayamu dengan jalan menghinakan kehidupanmu.

Kawan pendengar
Bentuk-bentuk Birrul Walidain banyak dijelaskan dalam Al-Quran maupun haditz. Diantaranya adalah bagaimana bergaul diantara keduanya secara baik.  Seorang anak wajib mempergauli keduanya dengan cara bergaul yang baik. Seorang anak wajib menyenangkan keduanya, jangan sampai menyakiti hatinya. Sesuai dengan Firman Alloh dalam QS Luqman ayat 15

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Meskipun seorang laki-laki sudah mempunyai istri dan harus senantiasa berbuat baik kepada istrinya tapi berbuat baik kepada orangtua yang harus diutamakan.  Karena ibu yang telah bersusah payah melahirkan antara hidup dan mati. Menyusuinya selama 2 tahun, mendidiknya dengan penuh kasih sayang, mengasih dengan penuh kesabaran dan banyak lagi jasa ibu kepada kita yang sulit disebutkan satu-persatu. Begitu juga seorang bapak yang bekerja membanting tulang demi memenuhi kelangsungan hidup keluarganya dan juga besar jasanya.

Dari Abuddarda' r.a. bahwasanya ada seorang lelaki datang kepadanya: "Sesungguhnya saya mempunyai seorang istri dan sesungguhnya ibuku menyuruh kepadaku supaya aku menceraikannya." Kemudian Abuddarda' berkata: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Orangtua adalah pintu yang paling tengah diantara pintu-pintu syurga." Maka jikalau engkau suka, buanglah pintu itu -tidak perlu mengikuti perintahnya atau tidak berbakti padanya-, tetapi ini adalah dosa besar, atau jagalah pintu tadi -dengan mengikuti perintah dan berbakti dan ini besar pahalanya-." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits shahih.

Dalam haditz lain juga diterangkan barang siapa berjalan untuk membesukkan orang tuanya maka Allah SWT mencatatkan baginya untuk satu langkah seratus pahala dan menghapus seratus dosa serta mengangkat seratus derajat. Dan jika ia mau duduk bersimpuh dan berbincang-bincang dengan tutur kata yang manis kelak di hari kiamat nanti Alloh akan memberikan penerang dan bila ia keluar dari kedua sisinya maka ia akan keluar dengan diampuni dosanya

Kawan pendengar, Haditz ini mengingatkan kita betapa besar balasan yang diberikan Alloh kepada anak yang mau mengunjungi orangtuanya. Mau menemui dan bertatakarama bertuturkata yang menyenangkan. Walaupun begitu kita terkadang masih enggan mengunjungi orang tua yang jauh dengan alasan sibuk, tidak ada kesempatan dan sebagainya. Padahal bahagianya orangtua kita akan memberkahi hidup kita mengangkat derajat bahkan menghapus dosa-dosa kita. Adakah balasan yang lebih tinggi daripada membahagiakan orangtua karena kunjungan kita?

Dalam haditz tadi dijelaskan secara rinci bagaimana harus bergaul dengan orang tua, bagaiman kita membesuk orangtua duduk dan bersimpuh dengan orangtua, bertutur kata dengan tutur kata yang baik. Jangan sampai menyakitinya. Dengan kita berbicara kepada orangtua hendaknya dibedakan dengan kita berbicara kepada anak, atau dibedakan berbicara dengan teman atau dengan yang lainnya. Berbicara dengan orangtua harus dengan perkataan yang mulia, lemah lembut jangan sampai mengatakan kata ah dan sebagainya apalagi mencaci maki atau mencemooh.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia

Pendengar suarasurabaya, kita tidak boleh berbicara secara kasar dan keras dan membentaknya kepada orangtua meskipun keduanya mengatakan yang tidak enak didengar. Bahkan jika keduanya memukul kita kita tetap tidak boleh membalas. Dalam sebuah haditz diterangkan tentang larangan membentak kepada kedua orangtua yaitu haditz dari Ali Bin Abi Thalib

Aku berlepas diri dari seseorang yang tidak menunaikan hak kepada orang tuanya Aku bertanya “Ya Rosulullah bagaimana bila ia tidak mempunyai sesuatu?”  maka terimalah kata-katanya dengan baik dan penuh ketaatan jangan berkata Huss, jangan membentaknya dan berkatalah dengan perkataan yang mulia

Kawan pendengar, Kaulan Kariimah (perkataan yang baik) dari haditz dan Al Qur’an tadi mengungkapkan bahwa perkataan kita tidak hanya baik tetapi harus  sopan dan lemah lembut tetapi juga ucapan yang menyenangkan hati kedua orangtua, bercerita dan berucap serta menyenangkan kedua orangtua. Menjadikan orangtua bahagia dan mengucapkan puji syukur kepada Alloh. Dan Puji Syukurnya orangtua membawa berkah bagi kehidupan kita.

Inilah barangkali yang dapat kita kaji pada hari ini . Mudah-mudahan kita menjadi anak yang pandai berbakti kepada orangtua dan orangtua yang  pertama kita perhatikan adalah ibu yang telah melahirkan kita. Berbahagialah bagi para pendengar yang masih mempunyai ibu yang masih mempunyai kesempatan untuk berbakti dan inilah peluang sorga untuk kita. Terimakasih atas perhatiannya Wa’afu Minkum

Wassalamualaikum Wr.Wb

Didengarkan dan ditulis kata-perkata oleh
Astu Anindya Jati

Sabtu, 02 April 2011

Arkaanul Islam sebagai penyiram iman

Renungan Fajar 2 April 2011
Judul : Arkaanul Islam sebagai penyiram iman
Ust.Abdul Aziz @SSFM 100.0


Assalamualaikum Wr.Wb
Bismillahirrohmaanirrohiim
Di pagi hari ini marilah kita senantisa untuk memanjatkan syukur. Karena Alloh yang Maha Kuasa telah memberikan kita nikmat sehat,nimat  iman, dan nikmat sempat untuk mendengarkan tauziyah kali ini.. Iman adalah nikmat nikmat yang paling besar. Tidak ada yang bisa menandingi nikmat iman. Nikmat iman membentuk manusia seutuhnya. Nikmat duniawi atau materi daya lakunya hanya terbatas paling lama seumur hidup. Tidak jarang puls nikmat malah membawa sengsara. Apalah artinya kekayaan apabila kemudian oleh Alloh diberi sakit. Makan dibatasi, tidak boleh ini tidak boleh itu. Banyak pantangannyat. Sedangkan nikmat kekuasaan dan jabatan sudah bisa ditebak kapan berakhir. Paling panjang saat pensiun atau dipaksa pensiun oleh SK yang diberikan Alloh kepada malaikat izrail jauh-jauh hari sebelum manusia lahir ke bumi.

  1. Iman akan terus menemani kita menuju alam akhirat. Benih iman perlu dipelihara dan dipupuk sehingga menhasilkan  buah yang lezat yaitu taqwa, puncak teringgi iman. Ada 4 kiat / metode yang bisa dilakukan untuk menyirami iman yaitu :
  2. Ibadah. Dengan ibadah iman menjadi subur
  3. Ilmu. Dengan Ilmu iman akan meluas
  4. Berfikir. Dengan berfikir iman akan mendalam
  5.  Ujian. Melalui ujian iman akan menjadi kokoh dan kuat
Semuanya harus dibarengi dengan usaha. Tanpa usaha iman tidak akan mungkin menjadi taqwa.Tanpa usaha, iman tidak mungkin menjadi taqwa
Seperti halnya tanaman, iman bila tidak disirami dengan ibadah akan menjadi layu, kering kemudian mati.  Salah satu ibadah adalah dengan shalat. dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. 20:14. Shalat adalah  himpunan dari dzikir. Shalat adalah dzikir akbar. Dengan berdzikir maka hati menjadi tenang. Shalat akan menjadikan iman menjadi segar, ijoo royo2. Shalat adalah Pupuk penyubur tumbuhnya iman.Setiap pagi setelah membaca doa bangun tidur “Segala Puji Bagi Alloh yang telah menghidupkan aku sesudah matiku” kita bangun untuk melakukan shalat shubuh 2 rakaat setelah sebelumnya melakukan shalat sunnah fajr 2 rakaat.  Setiap mukmin mengawali hidupnya  dengan iman yang mantap. Dengan 2 ember dzikir akbar.  Fajr dan shubuh sebagai bekal iman dan taqwa

Saat hari semakin siang. Ketika iman nulai berkurang karena sibuk mencari nafkah maka Alloh menyegarkannya dengan shalat Dhuhur. Agar iman kita stabil dalam menghadapi tantangan hambatan dalam hidup dst. Dengan mengingat Alloh maka hati kita menjadi tenang siap menghadapai suka maupun duka. Hati kita akan tenang karena kita mempunyai sandaran vertikal. Segala puji bagi Alloh yang telah mengatur waktu shalat dengan pas. Yang masih relevan hingga masa kini sehingga tidak menganggu kewajiban kerja. 17 rakaat shalat  tidak dikerjakan sekaligus sehingga bukannya bermanfaat tapi menyebabkan overdosis.

Cara menyiram terburu-buru tidak akan mengenai sasaran. Shalat jangan terburu atau asal-asalan tidak khusyuk. Bacaan shalat harus dipahami arti dan jangan hanya menjadi mantra
Ketika shalat adalah ibadah harian. Maka puasa adalah siraman tahunan. Sepeti dikatakan dalam QS 2:183 puasa adalah sarana untuk melatih menahan diri ,kepekaan, sabar dan tahan uji.

Sedangkan Ibadah Haji adalah siraman seumur hidup

supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan[985] atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak[986]. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (Al-Hajj : 28)

Saat Haji kita dikumpulkan oleh Alloh dengan manusia lain dari berbagai bahasa, adat istiadat dan bahasa dalam suatu kongres umat islam sedunia. bertujuan agar kita memiliki wawasan global.

Sementara zakat adalah ibadah horizontal yang bertujuan untuk menghilangkan sifat sombong,bakhil dan serakah.

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS At-Taubah :103)

[658]. Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda
[659]. Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

Semua Ibadahyang termasuk dalam rukun islam bertujuan untuk menyiram iman agar  berbuah lezat setiap saat.
Demikian semoga bermanfaat.


Retold by @astu_MD

Kamis, 31 Maret 2011

Penyebab rusaknya tatanan sosial (5) TINGGI ANGAN-ANGAN

Renungan Fajar 29 Maret 2011
Ust. Abdul Aziz

Assalamualikum Wr.Wb
Alhamdulillahi robbil aalamiin. Semoga pendengar Renungan Fajar selalu dalam keadaan sehat dan mampu menyimak Renungan Fajar kali ini.
Masih melanjutkan pembahasan tentang penyebab rusaknya tatanan social yang ke 5. Yaitu PANJANG ANGAN-ANGAN.

Setiap manusia pasti mempunyai keinginan. Namun tidak semua keinginan dapat diraih. Panjang angan-angan atau thuulul amal adalah menganggap bahwa semua hal di dunia ini tidak akan segera berakhir. Targetnya muluk dan tidak logis ingin hidup 1000 tahun. Boleh saja menanam rasa optimis. Nabi bersabda : berbuatlah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup untuk selamanya tapi kemudian melanjutkan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok hari. Inilah prinsip keseimbangan yang ditekankan oleh Nabi. Bekerja keras untuk dunia dan akhirat.
Apa saja akibat dari panjang angan-angan?
1>Menyebabkan kemalasan ibadah.
2>Selalu terperangkap pada maksiat rakus
3>hatinya menjadi sangat keras sulit menerima hidayah. Menjadi lupa urusan akhirat. Cinta dunia. Tertipu oleh angan-angan dan terjebak oleh program dunia yang tiada habisnya

" Wahai manusia, tidakkah kamu malu oleh Allah." Sahabat bertanya: " Apakah gerangan makna malu itu wahai Rasulullah ?" Rasul menjawab: "Kamu semua mengumpulkan segala sesuatu yang tidak kamu makan, merencanakan sesuatu yang tidak akan kamu dapatkan, dan membangun tempat (tinggal) yang tidak akan kamu diami."(H.R. Baihaqi)

Manusia mengira bahwa hartanya bakal membuatnya kekal di dunia." (Q.S. Al Humajah:3)

"Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik". (QS. 9:24)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)

Ayat-ayat dan haditz diatas mengingatkan manusia agar kita selalu menjaga diri. Jangan sampai kecintaan kita terhadap perhiasan dunia. Membuat kita lupa bahwa suatu saat kita akan kembali kepada-Nya

Retold and modified by Astu Anindya Jati

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...