Minggu, 13 Februari 2011

Jogja vs. Solo : saudara kembar berbeda karakter - a cultural review


Assalamualaikum
“Waalaikumsalaam. Silakan duduk Pak Bu! Bu Bambang nya masih shalat”, sambut asisten Bu Bambang pada kami.
(rupanya kami sudah ditunggu, kamipun disuguhi roti gelas. Apa itu? Sebenarnya saya tidak tahu namanya, itu lho jadi ada gelas isinya ada sosis, daging dan jamur dicampur semacam krim putih lalu diatasnya ada roti gandum yang menempel lekat di bibir gelas karena sebuah mesin yang bernama oven. Hmm mak nyus. Istimewa)

“Silakan lho selagi masih panas. Kalau sudah dingin nanti tidak enak”, kata asisten tersebut pada kami.
(memang roti gelas itu sudah agak dingin karena dimasaknya seusai jum’atan sedangkan kami berkunjungnya sudah mendekati sore. Tak menunggu lama roti gelas itupun menguap sedikit demi sedikit karena tampilannya begitu menggoda, dan hmm…rasanya juga sangat enyaak. Sebelumnya saya, istri dan ayah mertua harus menjemput terlebih dahulu ayah dan ibu di kantor bedah saraf RSU. dr Soetomo yang jaraknya puluhan kilometer. Sedikit meleset dari yang dijanjikan akan bertemu seusai jumatan. Alhamdulillah kebetulan sekali ayah dan ibu belum makan siang. Jadi hidangan tinggi kalori ini cukuplah mengganjal perut yang sudah berteriak kelaparan. Semoga Alloh membalas semua kebaikannya)

Yang ditunggupun akhirnya datang juga. Bu Bambang, owner Sukma Sari Wedding Organizer. Nama aslinya mana tahu. Nama kecil seorang ibu memang kadang dirahasiakan. Karena sering jadi password transaksi perbankan. Puterinya tentu tidak akan rela nama ibunya disebar-sebar hehe..

Wanita itu sulit ditebak usianya mungkin sekitar 50 atau 60. Wajahnya cerah, bugar dan minim kerutan. Menandakan pemiliknya rajin merawat diri. Ketika menyambut dan berbincang dengan kami tutur katanya santun, cerdas dan sarat pengalaman. Sorot matanya teduh dan bersahabat. Perawakannya agak besar sebesar jiwanya sebesar keteguhannya dalam membesarkan bisnisnya.

Acaranya dimana bu?
InsyaAlloh di gedung Juang

Hmmm ya ya. Gedung Juang itu praktis juga dekat. Tempat parkirnya luas.
Nanti memakai adat Jogja atau solo bu?
Jogja… Bu Bambang

Sampai disini mari kita sejenak menghentikan detak jam dan detak jantung lalu trance melakukan suatu perjalanan imajiner kembali ke masa lalu untuk mencari tahu asal muasal perbedaan budaya jogja dan solo. Siap-siap.. Bismillahirrohmaanirrohiim

Pada tahun 1755 terjadi peristiwa bersejarah yaitu tepat ditandatangani nya perjanjian Gianti yang membagi wilayah Kesultanan Mataram menjadi dua yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Karena latar belakang politik yaitu perang saudara yang makin memanas antara Pangeran Aryo Mangkubumi dan Sinuhun Paku Buwono II akhirnya Kompeni berusaha menengahi sekaligus menjalankan taktik licik VERDEEL EN HEERS membagi dan menaklukkan atau yang lebih beken Devide et Impera. Belanda kompeni memanfaatkan konflik internal kerajaan Mataram agar kekuasaannya terpecah belah sehingga lebih mudah dikuasai.. melalui perjanjian ini Pangeran Mangkubumi berkuasa di Yogyakarta dan kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I. Sementara Sinuhun Paku Buwono III berkuasa di  Surakarta. Masyarakat di kedua wilayah ini lalu bertumbuh dengan adanya ‘caranya’ masing-masing. Mulai dari cara pandang, cara hidup, cara bicara, cara berbusana sampai pada seni gamelan dan seni tarinya. Yah, sangat beragam dan unik sekali. Contohnya seperti ini, ternyata ada perbedaan dari gaya berbusana antara pria Jogja dan Solo.

Blangkon
blangkon Solo. Mondolan pipih
Blankon Jogja Mondolan lebih menonjol
Perbedaannya ada pada mondolan atau gelung belakang. Kalau Yogyakarta mondolannya menonjol dan agak besar. Sementara Solo bentuknya pipih / kempes / trepes. Kok bisa begitu? Masing-masing ada makna filosofis yang menarik. Pada zaman dahulu banyak pria Jawa yang berambut panjang sehingga banyak yang digelung ke belakang menyatu dengan ikat kepala sehingga pada blangkon Jogja ada mondolan atau tonjolan di belakang tempat gelungan rambut. Ada juga yang memaknai bahwa gelungan itu ibarat aib yang harus disembunyikan baik aib sendiri maupun orang lain. Menyimpan rapat2 perasaannya sendiri demi menjaga perasaan orang lain. Tetap tersenyum walau hatinya menangis atau marah.. inilah sebenarnya watak orang jawa secara umum, jarang ada yang blak-blakan tanpa tedheng aling-aling selalu dijaga dan dijaga karena wataknya halus. Sedangkan di Solo, karena lebih dekat dengan pemerintahan kolonial, orang-orang Solo sudah terlebih dahulu mengenal cukur. Jadi Blangkon Solo hanya mengikatkan 2 pucuk ikatan menjadi satu. Dua ikatan ini ibarat 2 kalimat syahadat yang harus diikat kuat, dipegang teguh di dalam hidup.

Tentang blangkon sendiri ada 2 filosofi. Yang pertama diletakkan di kepala agar produk yang dihasilkan kepala yaitu berupa ide, pemikiran, konsep haruslah tetap selalu dalam koridor nilai-nilai agama Islam. Jadi tidak dibiarkan bebas begitu saja akan tetapi diarahkan agar menjadi berkah untuk sesama. Menjadi rahmatan lil alamiin (rahmat seluruh semesta). Filosofi yang kedua Blangkon ibarat makrokosmos (Pemilik alam semesta ) sedangkan kepala adalah mikrokosmos yaitu makhluk bernama manusia. Artinya dalam menjalankan amanahnya  sebagai khalifah fil ardhi (pemimpin di Bumi)
harus selalu tunduk dan patuh kepada penciptanya yaitu sang Khalik.

Surjan dan Beskap
Beskap Solo
Pakaian Adat pria Jogja sehari-hari disebut surjan. Ada 2 macam motif yaitu surjan lurik dan surjan kembang. Kalau di Solo, pakaian pria namanya Beskap, bentuknya seperti jas didesain sendiri oleh orang Belanda yang berasal dari kata beschaafd yang berarti civilized atau berkebudayaan.

Keris
Keris gaya Solo disebut ladrang sedangkan Jogja bernama Branggah. Ladrang mempunyai bilah (sarung keris) yang lebih ramping dan sederhana tanpa banyak hiasan karena mengikuti gaya senopatenan dan mataram sultan agungan. Sementara keris Solo pada bilahnya lebih banyak ornamen dan bentuk/motif karena mengikuti cita rasa Madura dari Mpu Brojoguno. Ukiran keris solo bertekstur lebih halus daripada jogja. Juga ada perbedaan dari gagang keris, luk, dll. Masing-masing memiliki filosofi sendiri-sendiri.



Wiru (seni melipat kain batik/jarik)
Wiru pada jariknya pun juga berbeda. Wiru Yogyakarta pada bagian garis putih pada ujung jarik diperlihatkan dan kadang-kadang disertai “pengkolan-pengkolan” (lipatan). Sedangkan pada Wiru Surakarta garis putih tersebut tidak diperlihatkan dengan cara ditekuk atau dilipat ke dalam sehingga akan tertutupi oleh wiru itu sendiri.

Corak batik
Mengenai corak batik sebenarnya sumbernya sama yaitu dari mataram kuno tapi seiring perkembangan ada sedikit perbedaan. Pada batik Solo cenderung bercorak gelap dan muram sementara Jogja cerah. Ada juga perbedaan istilah, tata cara pemakaian, pemilihan batik pada event2 tertentu

Pager Bagus
Di Solo pager bagusnya muda2 yang cantik yang ganteng. Di Solo lebih menekankan penampilan dan cenderung glamour sementara pada resepsi Jogja yang menjadi pager bagus adalah pasangan yang sudah berumur karena lebih menekankan kesederhanaan dan ilmu dari seseorang. Menurut adat jogja manusia akan lebih terlihat cantik/tampan bila memiliki ilmu.
Surjan Jogja

kiri : keris Solo kanan : keris Jogja
Tik tok waktu kembali berjalan dan mari kita kembali ke masa kini. Bu Bambang dan kami telah selesai beramah-tamah. Dalam dialognya, Beliau telah mengajarkan kami akan betapa tingginya budaya yang kita miliki. Itu baru adat Jawa belum daerah daerah yang lain. Negara kita adalah Negara kepulauan.. archipelago.. Budaya dan bahasa tumbuh begitu subur dengan nilai-nilai kearifan lokal masing-masing. Teringat-ingat pesan dari Kitab suci Al-Qur’an QS Al Hujuraat : 13  “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal “ Subhanallah diciptakan-Nya perbedaan adalah sebagai bukti Kebesaran-Nya. Perbedaan diciptakan bukan untuk menjadi saling bermusuhan akan tetapi agar manusia dapat saling menghargai satu sama lain.

Surabaya, 13 Februari 2011
Writer                      : Astu Anindya Jati, dr.
Editor in chief      : Nindia Nurmayasari, SPsi.

Referensi
3.  http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4386490 (Sedikit Mengenal "SURJAN" Pakaian Khas Jawa)

20 komentar:

  1. Postingan yang menarik.
    Untuk batik Solo, warnanya bukan gelam dan muram tapi warna batik Solo adalah Sogan coklat kekuningan. Dinamakan batik sogan karena pada awal mulanya, proses pewarnaan batik ini menggunakan pewarna alami yang diambil dari batang kayu pohon soga tingi. Biasanya sogan Yogya dominan berwarna coklat tua-kehitaman dan putih, sedangkan sogan Solo berwarna coklat-oranye dan coklat.

    BalasHapus
  2. Waaah terimakasih banyak untuk pujian dan koreksinya :)

    BalasHapus
  3. tambahan satu lagi, pd hakikatnya, baik Solo maupun Jogja itu deket dg Belanda.

    Bahkan dlm bbrp hal Jogja lebih banyak dekat dg Belanda, sebagai buktinya anak turun raja Jogja byk yg sekolah di Belanda...

    Atau silakan baca sejarah Jogja di masa HB II-HB V dimana di salah satu episode HB III, Diponegoro justru berontak melawan Jogja yg dibantu Belanda. Diponegoro dibantu oleh PB VI sampai beliau meninggal ditembak di kepala.

    Sementara Solo lebih dekat dengan budaya Jawa. maka dari itu, Keraton Solo lebih maju budayanya dibanding Jogja.

    Contohnya Solo memilki pujangga yg mendunia bernama Ronggowarsito dan dg museumnya yg paling tua di Indonesia. Radyapustaka.

    BalasHapus
  4. yang sudah terbukti adalah Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai rakyat yang masih setia, karena itu bisa bertahan samapai saat ini

    BalasHapus
  5. setuja dg Jays Alsyaj...
    jogja masih eksis sampai sekarang dalam arti dlm kemandirian,jd panutan dan barometer indonesia
    DIY adalah provinsi tersendiri,gak ikut jawa tengah mas dab...!
    jogja istimewa krn semua lapisan masyarakatnya selalu mendukung dan menjaganya sampai detik ini
    dulu solo sempat diberi ke-istimewaan tapi dirusak sendiri/dicabut sendiri oleh rakyatnya (kalo ga percaya tanya ahli sejarah pd tahun 1946an)
    Saiki arep njaluk meneh???

    BalasHapus
  6. Kenapa harus ribut masalah siapa yang lebih istimewa, tapi yang pasti kalau presiden soekarno masih hidup, pasti keistimewaan surakarta di kembalikan, pengawasan surakarta kala itu hanya dititipkan sementara, jadi hal tersebut merupakan amanat undang undang yang sampai sekarang belum dapat terealisasikan kembali menjadi Daerah istimewa surakarta.
    Saya sedih ketika surakarta selalu di pojokkan dengan opini "solo lebh dekat dengan belanda". baca dulu sejarah dengan seksama dan di hayati.... jangan hanya menyalahkan...

    solo the spirit of java

    BalasHapus
  7. matur nuwun sanget kangmas,
    badhe ngaturi pirsa blog http://chafidibnuabdillah.blogspot.com
    dipungantos dados nguriurijawa.blogspot.com
    Matur sembah nuwun

    BalasHapus
  8. flashback aja sebelum indonesia merdeka...
    dulu UGM sebenarnya akan di abngun di solo..tp karena suatu hal entah bagaimana akhirnya ...katanya siih ga boleh dibangun ditanah kraton...pada akhirnya ditawarkan ke HB IX..dan dgn tangan terbuka maka UGM sementar waktu beroperasi di Sasono Hinggil...sampai pd akhirnya dpt hibah tanah dr kraton didaerah Bulak Sumur hingga sekarang..
    Apa yg dpt dipetik dr penggalan sejarah ini...
    bahwa HBIX sejak beliau sekolah..meskipun dididik dg ajaran barat...tetapi hatinya orang Jawa tulen...
    mgkin kita bs menyimak lg bgmn dg Moment yg Monumental Serangan Umum 1 Maret 1946 ..peran besar Beliau dg eloknya di"pelintir" oleh sejarah bentukan Rezim Suharto..
    shg dalam film terbitan pemerintah saat itu begitu menonjolkan peran sang jendral...
    Aaaahhh... msh banyak deh bagaimana Dunia mengakui Istimewanya Jogja...gak kurang bukti...sampai detik ini..
    jd buat Ahmedkreatif.....kalo ngomong sebaiknya dg fakta yg akhurat..jgn asal beropini..subyektif banget deeh..
    kita ga terima dg koment anda..yg dekat dg KOmpeni ya sampean kuwi..
    JOXZIN....Jogja lovers

    BalasHapus
  9. Kalau Jogja tenarnya kan baru saat Sultan HB IX menjabat, Solo sudah menjadi pusatnya pergerakan jauh sebelum Indonesia merdeka. FYI, pada jaman Hindia Belanda dulu, Surakarta/Solo merupakan kota terbesar ketiga dengan jumlah penduduk lebih dari 150000, setelah Batavia dan Surabaya. Berbagai aliran pemikiran, nasionalis, radikalis, agamis, semuanya berpusat di Solo. Surakarta mengalami kemajuan pesat terutama di bidang pemikiran politik, itu karena PB X dan MN VII terbuka untuk berbagai pemikiran maju. Boedi Oetomo walau tidak lahir di Solo, tapi besar di Solo. Pakubuwono X waktu itu membaca koran tentang berdirinya Boedi Oetomo, beliau lantar berkata "akan terjadi perubahan besar di tanah Jawa, perintahkan semua bangsawqan manut sama Boedi Oetomo". Akhirnya, Boedi Oetomo berkembang pesat di Solo. Satu-satunya daerah di Indonesia waktu itu yang boleh menyanyikan Lagu Indonesia Raya, hanya daerah Surakarta (Solo), dan PB X mewajibkan setiap pertandingan sepakbola untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera Merah putih juga berasal dari Solo, berikut pula lambang padi dan kapas bisa dilihat pada Radya Laksana. Putra-putra keraton Solo juga tidak kalah berperan, Jenderal Jatikusuma, panglima TNI pertama dari Keraton Solo, Rajiman Widyodiningrat, dokter PB X, ketua BPUPKI, juga dari Keraton Solo, Mr Soepomo penggags pancasila bersama M Yamin dan Soekarno, bapak hukum RI, dan menteri pertama Hukum RI, juga dari keraton Solo. PB XII memberikan maklumat 1 September 1945, lebih awal dari Jogja. Jadi jangan menyepelekkan peran keraton Solo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus. Saya dari Wonogiri setuju dengan pendapat anda. Tapi, kalaupun masyarakat Jogja tidak setuju dengan kenyataan ini, biarlah. Biasanya yang lebih tua itu harus mengalah dan legowo. Orang Solo harus lebih sabar, karena yang paling dewasa dan bijak serta jawani dalam bersikap, itulah yang lebih tua. Matur Nuwun.

      Hapus
  10. tentang pendirian kampus, Keraton telah menghibahkan buanyak lahan untuk dipakai NKRI. Kandang Menjangan, sekarang menjadi markas Grup 2 Kopasus. Tanah di kentingan sekarang menjadi UNS. Awal-awal Indonesia merdeka, PB XII memberikan bantuan tempat kepada dunia pendidikan, yakni di Pagelaran Keraton dan Sasono Mulyo untuk tempat diselnggarakannya pendidikan, karena bantuan PB XII inilah maka akhirnya terbentuklah UNS. Kalau UGM tidak jadi didirikan di Surakarta, menilik waktu itu tahun 1946 terjadi pemberontakan PKI yang kondisinya tidak memungkinkan untuk dibangun suatu intitusi pendidikan skala besar.

    BalasHapus
  11. yang istimewa itu bukan surakarta ataupun jogjakarta, karena yang istimewa adalah Jawa, mereka hanya mewarisi sedikit saja dari Wangsa Jawa. apa yang bisa keduanya banggakan kecuali warisan yang sedikit itu, mereka tidak bisa menyatukan orang jawa yang tercerai berai tanpa tuan, orang jawa jadi bodoh, miskin, buta aksara, bisu bahasa, buta budaya, saya tunggu Wangsa Jawa menaklukan dua kraton itu,,

    BalasHapus
  12. SOLO JOGJA SAMA SAJA
    1 TRAH PANEMBAHAN SENOPATI 1
    NKRI HARGA MATI

    BalasHapus
  13. saya dari sukoharjo, saya heran dg orang jogja kenapa selalu merasa superior ? & sensitif sekali jika ada tulisan berbau isu DIS ? sebagai saudara tua penerus mataram orang Surakarta harus lebih dewasa & mengalah... mau bukti sejarah perjuangan Surakarta? sebaiknya lebih rajin lagi membaca sejarah.... maturnuwun

    BalasHapus
  14. kita kan sedang belajar baju adat, kok malah jadi area konflik mana yang hebat mana yang tidak?
    sudah lah... masih banyak urusan yang perlu kita selesaikan ketimbang sibuk berdebat. bagi saya, baik solo maupun jogja semuanya luar biasa! sebagai generasi penerus sudah menjadi kewajiban kita untuk melestarikan, mengembangkan dan menyebarluaskan kekayaan budaya bangsa kita. bukan malah memperdebatkan mana yang hebat dan mana yang tidak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat anda. Awalnya kita hanya membahas mengenai pakaian adat Jogja dan Solo. Kenapa malah jadi memperebutkan mana yang lebih istimewa dan lebih baik. Jogja dan Solo sama Saja. Sama-Sama ISTIMEWA. Sama-Sama milik Indonesia.

      Hapus
  15. Solo itu kota paling galau, jaman PKI rakyatnya perang saudara...karena yang PKI sama yang bukan hampir sama banyaknya, jaman kerusuhan etnis cina ya ikut2an ngusir orang cina, jaman teroris ya ikut2an jadi teroris :D
    Hai solo...lihatlah raja kalian yang doyan kimcil (baca berita ya)

    Solo dinamis ? solo labil faktanya :-D

    BalasHapus
  16. saya orang Jogja... tapi tiap kali ke Solo merasa seperti di rumah sendiri... orang Solo ramah-ramah dan sangat friendly... sama seperti orang Jogja.... soal sejarah, tidak ada gunanya diributkan... lebih baik kita bertanya pada diri sendiri, apa kontribusi kita pada kebesaran Jogja ataupun Solo?

    BalasHapus
  17. karena rasa tidak bohong... orang2 karisedenan surakarta (surakarta, sukoharjo, klaten, boyolali,wonogiri, sragen dan karanganyar) pasti mendukung DIS, sedangkan orang jogja cenderung bersikap bahwa satu2nya daerah istimewa di jawa hanyalah jogja...

    Bahwa akar masalah ketidakadaan DIS ini bukan karena kasunanan surakarta dekat dengan kolonial... Bahwa iya tidak sepenuhnya benar bahwa DIS dekat dengan kolonial, tp tidak sepenuhnya salah bahwa DIS "dekat" dengan kolonial. Mulai dengan hal kecil saja;
    1. gaya pakaian beskap (adopsi dari beschaafd) meskipun jogja jg ada tp bukan pakaian yg utama, karena jogja pakai surjan..
    2. Patung2 gaya eropa yg merupakan hadiah dari ratu belanda
    3. PB II sangat dekat dengan VOC ketika Kartasura jatuh akibat pemberontakan dari kaum tionghoa dan rakyat anti VOC, yg kemudian mengakibatkan pindahnya Kartasura ke Surakarta.

    sedangkan jogja... (bukan berarti tidak "dekat") dengan kolonial
    1. peristiwa diponegoro salah satunya.. (justru PB VI surakarta yg diam2 membantu diponegoro dan diam2 melawan kolonial)
    2. HB IX memang sekolah di Belanda akan tetapi justru beliaulah Raja yg benar2 "menentang" Belanda

    semuanya hanya dinamika politik dan kekuasaan ketika pada suatu masa kepemimpinan PB maupun HB tiba2 dekat atau melawan kolonial.

    tapi tentu pada zaman perjuangan kemerdekaan baik Surakarta maupun Jogja sama2 berjuang untuk Indonesia,, itu tidak terbantahkan....

    Hanya saja bedanya ketika DIS baru lahir terjadi distabilitas politik dan keamanan.. seperti beberapa ratus tahun silam saat pemberontakan kaum tionghoa dan rakyat anti VOC, maka kaum kiri waktu jaman kemerdekaan melakukan upaya2 agitasi politik agar monarki ditiadakan... lahan2 agar dibagikan kepada rakyat....

    BalasHapus
  18. Baca sejarah bro...
    Dulu PB II menjanjikan tanah Sokawati kpd Mangkubumi kalau Mangkubumi bisa memadamkan perlawanan Sambernyawa. Tp trnyata PB II ingkar janji.
    Dulu wkt Jogja diserang Inggris, kraton Solo beserta pasukannya membantu Inggris menyerbu Jogja. Mrk ingin Kraton Jogja lenyap. Ingat P. Banguntapa mmg dicurigai membntu Diponegoro tp P. Banguntapa tak pernah mengerahkan pasukan,jgn2 cuma tmn biasa. Saya tanya, KAPAN PB beserta keturunannya mengerahkan pasukan dan berperang melawan pnjajah? Tdk ada sejarahnya.
    Beda sama HB I, HB II, P Diponegoro, HB IX. Mrk semua mengerahkan pasukan melawan pnjajah.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...